Tono mempunyai sebuah perahu dayung yang sudah sangat tua. Kebetulan suatu hari istrinya si Tino itu meninggal bersamaan dengan hari tenggelamnya perahu dayung si Tono itu. Beberapa hari kemudian seorang wanita tua melihat Tono, dan secara tidak sengaja salah mengenalinya sebagai Tino yang kehilangan istrinya itu.
Kata wanita itu kepada Tono, “Saya turut sedih atas kehilangan anda. Anda pasti merasa sedih.” Nah si Tono mengira bahwa wanita itu berbicara tentang perahu dayungnya itu, menjawab “Sebenarnya sih saya bisa dibilang malah senang karena bisa menyingkirkannya. Dia sudah amat tua sekali bahkan sudah jelek dari pertama kalinya. Bagian bawahnya sudah lapuk dan berbau amis sekali. Bagian punggungnyapun sudah sangat jelek dan lubang di bagian depannya sudah sangat lebar. Setiap kali aku menggunakannya, lubangnya bertambah besar dan dia bocor tidak karuan. Saya kira yang menghabisinya adalah ketika saya menyewakan dia kepada 4 orang pemuda yang sedang bersenang-senang tempo hari. Saya sudah memperingatkan mereka bahwa dia sudah tidak begitu enak dipakai tapi mereka masih juga mau menggunakannya.
Mereka berempat mencoba masuk secara bersamaan dan akhirnya dia sobek persis di bagian tengah bawah.” Wanita tua itupun pingsan…
Arsip untuk 'Transportasi'Kategori
Tono dan Tino
19 November 2008BINDENG
31 Oktober 2008Suatu hari saya sedang dalam perjalanan dari
Cinere ke Pondok Labu dengan menumpang sebuah
angkot, dan kebetulan saya duduk disebelah sopir.
Setelah sampai di depan Mal Cinere, ada seorang
pemuda minta diturunkan, kemudian pemuda itu
hendak membayar ongkosnya. Si pemuda itu bertanya
kepada sopir di sebelah saya, namun rupanya si
pemuda itu suaranya bindeng ( seperti hidung
tersumbat lendir pada saat pilek ),
Pemuda : hang ! heraha onghosha ? ( Bang ! berapa
ongkosnya ? )
Namun sopir di sebelah saya itu diam saja.
Pemuda : hang ! heraha onghosha ? hihanya hok hiem
aha, huhek huping hu ha ? ( Bang ! berapa
ongkosnya ? ditanya kok diem aja, budek kuping lu
ya ? )
Sopir tetap diam.
Pemuda : he hrengsek ! hihanya hiem aha ! uhah hih
hepek aha ! (Ye brengsek ! ditanya diem aja ! udah
nih cepek aja! )
Setelah menerima uang cepek ( Rp 100 ) itu, si
sopir segera menjalankan angkotnya lagi. Lalu saya
bertanya pada sopir, “Bang, kenapa sih tadi
ditanya sama orang itu, kog nggak jawab ?”
Lalu si sopir menjawab, “Hua hih hukannya hak hau
hawab ! hari hada hua hikira heledek, hendingan
hua hugi hepek !” ( Gua sih bukannya nggak mau
jawab ! dari pada gua dikira ngeledek, mendingan
gua rugi cepek !”. Rupanya sang sopir juga
bindeng…