Suatu hari saya sedang dalam perjalanan dari
Cinere ke Pondok Labu dengan menumpang sebuah
angkot, dan kebetulan saya duduk disebelah sopir.
Setelah sampai di depan Mal Cinere, ada seorang
pemuda minta diturunkan, kemudian pemuda itu
hendak membayar ongkosnya. Si pemuda itu bertanya
kepada sopir di sebelah saya, namun rupanya si
pemuda itu suaranya bindeng ( seperti hidung
tersumbat lendir pada saat pilek ),
Pemuda : hang ! heraha onghosha ? ( Bang ! berapa
ongkosnya ? )
Namun sopir di sebelah saya itu diam saja.
Pemuda : hang ! heraha onghosha ? hihanya hok hiem
aha, huhek huping hu ha ? ( Bang ! berapa
ongkosnya ? ditanya kok diem aja, budek kuping lu
ya ? )
Sopir tetap diam.
Pemuda : he hrengsek ! hihanya hiem aha ! uhah hih
hepek aha ! (Ye brengsek ! ditanya diem aja ! udah
nih cepek aja! )
Setelah menerima uang cepek ( Rp 100 ) itu, si
sopir segera menjalankan angkotnya lagi. Lalu saya
bertanya pada sopir, “Bang, kenapa sih tadi
ditanya sama orang itu, kog nggak jawab ?”
Lalu si sopir menjawab, “Hua hih hukannya hak hau
hawab ! hari hada hua hikira heledek, hendingan
hua hugi hepek !” ( Gua sih bukannya nggak mau
jawab ! dari pada gua dikira ngeledek, mendingan
gua rugi cepek !”. Rupanya sang sopir juga
bindeng…